Anjloknya Performa Sang Juara Bertahan
Liverpool sempat menunjukkan transisi yang luar biasa mulus pasca-kepergian Jurgen Klopp musim lalu. Di bawah asuhan Arne Slot, The Reds berhasil meraih kejayaan mutlak dengan menjuarai Premier League. Namun, bulan madu tersebut tampaknya telah berakhir. Sejak akhir musim lalu, nasib klub yang bermarkas di Anfield ini berubah drastis dan menukik tajam ke arah yang mengkhawatirkan.
Slot kini tampak kesulitan mengulang kesuksesan musim perdananya. Situasi saat ini menempatkan Liverpool terpuruk di posisi ke-12 klasemen, setelah menelan kekalahan dalam separuh dari 12 pertandingan Premier League yang telah dijalani. Mereka kini tertinggal 11 poin dari Arsenal yang berada di puncak, dan kekalahan telak 4-1 dari PSV Eindhoven di Liga Champions semakin menyorot tajam masa depan pelatih asal Belanda tersebut. Meski Slot masih memiliki sedikit waktu untuk menyelamatkan jabatannya, manajemen Liverpool disinyalir mulai bergerak mencari alternatif pengganti.
Rapuhnya Lini Pertahanan dan Kegagalan Transfer Mewah
Regresi yang dialami Liverpool musim ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Setelah memenangkan liga dan menggelontorkan dana lebih dari setengah miliar dolar di bursa transfer musim panas, posisi mereka justru merosot tajam. The Reds telah kebobolan 20 gol dan memiliki selisih gol negatif. Statistik mencatat bahwa hanya empat juara bertahan dalam sejarah yang memiliki poin lebih sedikit pada tahap musim ini. Ironisnya, jarak mereka ke zona degradasi (tujuh poin) kini lebih dekat dibandingkan jarak mereka ke pemuncak klasemen.
Rekor pertahanan mereka adalah yang terburuk sejak musim 2008-09 untuk jumlah laga yang sama. Sebagai perbandingan, saat menjuarai Liga Champions 2018-19, mereka hanya kebobolan lima gol pada titik ini, dan musim lalu saat juara liga, mereka hanya kebobolan delapan gol. Padahal, Liverpool masih menggunakan bek tengah dan gelandang yang sama, ditambah sepasang bek sayap baru yang seharusnya menjadi peningkatan dari pemain sebelumnya. Namun, kenyataannya mereka kebobolan lebih sedikit gol hanya dibandingkan dengan empat tim terbawah di klasemen.
Masalah tidak berhenti di lini belakang. Meski telah mengumpulkan deretan penyerang yang tampak sangat dalam untuk klub yang tidak dimiliki oleh dana kekayaan negara (sovereign wealth fund), mereka gagal mencetak 20 gol dalam 12 pertandingan pertama untuk kali pertama dalam satu dekade. Alexander Isak dan Florian Wirtz, dua pemain termahal dalam sejarah sepak bola Inggris yang didatangkan, mencatatkan statistik nol gol dan hanya satu assist jika digabungkan. Penampilan mereka begitu mengecewakan hingga Hugo Ekitike, seorang penyerang tengah yang baru mencetak tiga gol, justru terlihat sebagai satu-satunya titik terang dari jendela transfer musim panas. Bahkan Mohamed Salah, yang merupakan pemain terbaik dunia hampir sepanjang musim lalu, kini memiliki rasio gol dan assist yang lebih rendah daripada Casemiro.
Skenario Pergantian Pelatih dan Opsi Interim
Di tengah kemelut ini, nama Luis Enrique muncul sebagai kandidat kuat. Menurut laporan The Sun yang mengutip MD, mantan pelatih Barcelona dan timnas Spanyol tersebut diidentifikasi sebagai pilihan utama Liverpool untuk mengambil alih kursi kepelatihan. Namun, mendatangkan Enrique bukan tugas mudah karena ia masih terikat kontrak dengan Paris Saint-Germain hingga 2027. Pelatih asal Asturias tersebut sebelumnya pernah membuka diri terhadap peluang melatih di Inggris dan sempat menjadi kandidat manajer Tottenham Hotspur sebelum berlabuh ke PSG. Penguasaan bahasa Inggrisnya yang baik tentu akan memudahkan adaptasinya di Premier League.
Menariknya, muncul wacana mengenai skenario interim jika Arne Slot diberhentikan sebelum musim berakhir. Jurgen Klopp disebut-sebut dapat dipertimbangkan sebagai opsi sementara hingga musim panas tiba, sebelum Liverpool kemudian mengejar Luis Enrique sebagai solusi permanen. Di sisi lain, Enrique yang telah memenangkan segalanya bersama PSG mungkin akan merasa tidak ada lagi yang perlu dicapai di Paris setelah tiga musim, meskipun ia memiliki kekuasaan besar dan sumber daya melimpah di sana.
Realitas Pahit Perebutan Gelar
Kita masih harus menunggu apakah Liverpool mampu membalikkan keadaan. Namun, realitasnya, peluang mereka dalam perebutan gelar juara tampaknya sudah tertutup. Pasar taruhan dan sistem proyeksi analitik hanya memberikan peluang sekitar 5% bagi Liverpool untuk melampaui 11 tim di atas mereka sebelum akhir Mei.
Mengingat kemarin baru saja perayaan Thanksgiving, musim memang masih panjang, namun tanda-tanda kebangkitan belum terlihat nyata, terutama ketika tim kalah telak 3-0 di kandang sendiri melawan tim yang sudah memecat dua manajer berbeda. Kendati keruntuhan ini terlihat spektakuler dan spesifik, apa yang dialami Liverpool sebenarnya sejalan dengan pola umum di Premier League: tim yang memenangkan gelar pada tahun tertentu sering kali mengalami penurunan performa pada tahun berikutnya.