Wilayah perairan selatan Jawa Timur baru saja dikejutkan oleh aktivitas tektonik. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan telah terjadi gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 5,1 yang mengguncang kawasan Kabupaten Pacitan. Berdasarkan data pemantauan, pusat gempa atau episenter terdeteksi berada di laut pada jarak 319 kilometer arah barat daya Pacitan, tepatnya di koordinat 11,05 Lintang Selatan dan 111,07 Bujur Timur.
Meskipun gempa ini memiliki kedalaman dangkal sekitar 10 kilometer, BMKG memastikan bahwa guncangan tersebut tidak berpotensi memicu gelombang tsunami. Hingga saat berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai dampak kerusakan yang ditimbulkan maupun rincian wilayah mana saja yang merasakan getaran. Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada. BMKG memperingatkan adanya potensi gempa susulan yang lazim terjadi setelah guncangan utama.
Peristiwa di Pacitan ini menjadi pengingat nyata akan dinamika kerak bumi yang terus bergerak. Pentingnya pemantauan seismik yang berkelanjutan tidak hanya berlaku untuk mitigasi bencana jangka pendek seperti di Pacitan, tetapi juga untuk memahami perilaku jangka panjang sesar aktif, sebagaimana diungkapkan dalam sebuah studi ilmiah terbaru dari belahan bumi lain.
Fenomena “Bayangan Tegangan” Pasca Gempa Besar
Sementara Indonesia memantau dampak gempa lokal, para ilmuwan dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) baru saja merilis temuan penting terkait perilaku sesar pasca gempa besar di Hawaii. Dalam laporan yang diterbitkan di Bulletin of the Seismological Society of America, para peneliti menyoroti dampak jangka panjang dari gempa magnitudo 6,9 yang mengguncang sisi selatan Gunung Kīlauea pada tahun 2018 silam.
Studi tersebut mengungkapkan fakta mengejutkan: gempa besar itu ternyata telah menghentikan episode “slow slip” atau pergeseran lambat periodik yang biasanya terjadi di sepanjang sesar utama di bawah gunung berapi tersebut. Ingrid Johanson, peneliti dari Observatorium Gunung Api Hawaii USGS, menjelaskan bahwa guncangan tahun 2018 telah melepaskan akumulasi stres atau tegangan yang setara dengan penumpukan selama hampir 60 tahun.
Akibat pelepasan energi yang masif tersebut, terciptalah apa yang disebut sebagai “stress shadow” atau bayangan tegangan. Johanson dan timnya memprediksi bahwa fenomena slow slip di wilayah tersebut mungkin tidak akan terjadi lagi selama beberapa dekade ke depan. Dengan asumsi pembebanan yang stabil dari rayapan sesar, wilayah tersebut bisa berada dalam bayangan tegangan selama kurang lebih 56 tahun, dengan margin kesalahan sekitar tiga tahun.
Koneksi Aktivitas Magmatik dan Tektonik
Penelitian ini memanfaatkan jaringan stasiun Global Navigation Satellite System (GNSS) yang sangat padat di kawasan tersebut. Alat ini memungkinkan para ahli mengukur perubahan level tanah dan menciptakan gambaran komprehensif tentang bagaimana kerak bumi bergerak sebelum, selama, dan setelah gempa.
Salah satu temuan menarik lainnya adalah tidak terdeteksinya tanda-tanda relaksasi viskoelastik pasca gempa—sebuah aliran di kerak bawah dan mantel atas yang biasanya muncul sebagai respons terhadap perubahan tekanan. Absennya respons ini menunjukkan bahwa kemiringan sesar décollement (bidang gelincir) di Kīlauea kemungkinan sangat landai dan tetap berada di bagian kerak atas yang rapuh, sehingga tidak mentransfer tekanan cukup dalam ke mantel bumi untuk menyebabkan deformasi viskoelastik.
Namun, para peneliti memberikan catatan penting bahwa prediksi 56 tahun tersebut tidaklah mutlak. Pembebanan pada sesar sangat berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik. Perubahan aktivitas gunung berapi bisa saja mendorong sesar keluar dari “bayangan tegangan” lebih cepat dari perkiraan. Hal ini menegaskan bahwa proses magmatik dan tektonik—baik di Hawaii maupun di wilayah cincin api lainnya seperti Indonesia—saling terhubung erat, dan pemantauan terus-menerus adalah kunci utama dalam memahami potensi bahaya di masa depan.